Suarabmi.co.id – Setelah sembilan tahun bekerja di Taiwan tanpa pernah pulang, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) dengan nama samaran Ati harus menghadapi cobaan berat. Pada bulan Mei 2025, ia dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Kuang Tien karena mengalami mati rasa pada bagian pipi dan hidung.
Pemeriksaan medis menunjukkan bahwa ia mengidap hidrosefalus, yakni kondisi penumpukan cairan di otak yang meningkatkan tekanan dan berisiko merusak jaringan otak. Tak lama setelah itu, ia juga terinfeksi COVID-19 seperti laporan RTi yang dikutip suarabmi.co.id.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam nyawa Ati, tetapi juga menghancurkan kondisi ekonominya. Selama lebih dari dua bulan menjalani perawatan intensif, ia kehilangan penghasilan dan jatuh dalam krisis finansial.
Dalam keadaan lemah dan nyaris tak berdaya, satu hal yang terus ia sampaikan kepada tim medis adalah keinginannya untuk pulang ke Indonesia, baik untuk menjalani perawatan lanjutan maupun sebagai bentuk ikhtiar jika takdirnya berakhir.
Keinginan tulus itu menggugah banyak pihak di Taiwan. Pihak rumah sakit, relawan internasional, dan organisasi masyarakat bergerak cepat membantu proses pemulangan. Prosedurnya cukup kompleks, mulai dari penyusunan dokumen medis berbahasa Inggris, pengaturan kebutuhan medis selama penerbangan, hingga penyediaan ambulans khusus ke bandara.
Namun, seluruh proses tersebut berhasil diselesaikan hanya dalam dua hari berkat kerja sama lintas departemen dari Rumah Sakit Umum Kuang Tien.
Dukungan juga datang dalam bentuk penggalangan dana. Dalam waktu satu hari, lebih dari NT$80.000 berhasil dikumpulkan untuk membiayai kepulangan dan perawatan lanjutan Ati di tanah air.
Tidak hanya bantuan logistik dan finansial, para perawat seperti Wen Shu-zhen dan Chiu Jung-hsuan juga menunjukkan kepedulian personal. Mereka membelikan Ati pakaian, tas, sepatu, dan kalung, agar ia bisa kembali ke Indonesia dengan layak dan bermartabat.
Pada hari keberangkatannya, Ati diberikan kotak makanan ringan khas Taiwan bernama Guai Guai, yang melambangkan harapan dan keselamatan. Ia juga menerima kartu ucapan selamat jalan yang ditulis tangan dalam bahasa Indonesia oleh staf rumah sakit, dengan bantuan aplikasi penerjemah.
Dukungan tambahan datang dari Asosiasi Taiwan Mei Si Le Guanhua Xiehui yang turut melakukan penggalangan dana. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menghimpun NT$81.000 untuk membantu menutup sebagian biaya medis dan logistik. Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada Ati sebelum kepulangannya.
Dalam sepucuk surat yang ia tulis dengan tangan, Ati menyampaikan rasa terima kasihnya:
“Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang memberikan kehangatan saat saya tidak berdaya, sehingga saya bisa beristirahat dan pulih. Saya akan membawa pulang cinta ini, terima kasih semuanya telah membuat saya sangat terharu, terima kasih, saya mencintai kalian.”
Kini, Ati telah tiba di Jakarta dan tengah menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit. Kisahnya menjadi pengingat akan perjuangan para pekerja migran yang kerap menghadapi penderitaan jauh dari tanah kelahiran. Namun, kisah ini juga membuktikan bahwa solidaritas dan empati dapat menjembatani batas negara dan bahasa, menghadirkan secercah harapan di tengah badai kehidupan.***
Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.







