Suarabmi.co.id – Di tengah kesibukannya merawat lansia di Taipei, Anita Luki, seorang pekerja migran asal Indonesia, berhasil mencuri perhatian publik setelah turut ambil bagian dalam World Masters Games 2025.
Perempuan asal Lampung ini tampil sebagai peserta tunggal putri kategori usia 35 tahun ke atas dalam cabang olahraga bulu tangkis. Tanpa program latihan khusus, Anita tetap percaya diri untuk ikut serta dalam ajang internasional ini.
Saya memang tidak punya jadwal latihan rutin. Tapi ini kesempatan yang luar biasa, dan saya ingin mencobanya,” ujar Anita dalam sebuah wawancara seusai pertandingan yang dikutip Suara BMI dari Central News Agency.
Keikutsertaannya bukan semata hasil inisiatif pribadi. Anita mendapat dukungan dari shelter Rerum Novarum, tempat ia pernah mendapatkan perlindungan, serta bantuan dari Departemen Ketenagakerjaan Taipei yang turut membiayai partisipasinya.
Pihak shelter bahkan turut berperan dalam mengurus izin kepada majikan Anita, agar ia bisa tampil tanpa kendala.
Angel, relawan dari shelter tersebut, menyebut bahwa surat resmi dikirimkan ke pihak majikan untuk menjelaskan bahwa Anita dipilih sebagai perwakilan dalam acara yang diselenggarakan secara internasional. Sang majikan pun memberikan restu tanpa keberatan.
Pertandingan perdana Anita yang dijadwalkan berlangsung pada Senin sore, sempat batal karena ketidakhadiran lawan. Jadwal ulang kemudian ditetapkan pada hari Selasa pukul tiga sore.
Namun kisah Anita tidak berhenti di lapangan bulu tangkis. Ia juga menyimpan cerita perjuangan yang membekas selama menjalani kehidupan sebagai pekerja migran.
Pada awal 2024, Anita pernah ditempatkan dalam situasi kerja yang melampaui kontrak. Meski seharusnya hanya bertugas di satu rumah, ia malah dipaksa bekerja di tiga tempat berbeda dengan tanggung jawab yang tak sesuai kesepakatan.
Merasa diperlakukan tidak adil, Anita akhirnya meminta bantuan ke shelter yang kini mendukungnya berlaga di World Masters Games. Proses penyelesaian permasalahan itu bahkan sampai ke pengadilan. Setelah tiga bulan tinggal di shelter, ia akhirnya mendapat majikan baru yang lebih kooperatif.
Anita tidak menyia-nyiakan momentum ini untuk berbagi semangat kepada sesama pekerja migran.
“Kalau ada masalah, jangan kabur. Laporkan ke 1955 saja. Kita harus tetap semangat,” katanya.
World Masters Games 2025 yang berlangsung dari 17 hingga 30 Mei di dua kota besar Taiwan, yakni Taipei dan New Taipei, menghadirkan semangat kompetisi bagi atlet senior dari berbagai negara.
Turnamen ini bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga panggung inspirasi, dan Anita Luki telah menjadi bagian dari kisah itu.***







