Suarabmi.co.id – Sedikitnya 50 orang terluka setelah gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang lepas pantai Prefektur Aomori pada Senin malam. Gempa yang awalnya tercatat 7,6 magnitudo terjadi pukul 23.15 waktu setempat dengan kedalaman 54 kilometer. Guncangan terasa hingga Tokyo, diikuti sejumlah gempa susulan termasuk satu berkekuatan 6,4.
Di Kota Hachinohe, Aomori, sebagian plafon pusat perbelanjaan runtuh, dan kawasan pelabuhan menunjukkan tanda likuefaksi dengan munculnya air berlumpur dari celah tanah. Di Hokkaido, Bandara New Chitose mengalami kerusakan plafon, memperparah gangguan perjalanan akibat badai salju yang sebelumnya membatalkan 75 penerbangan. Sekitar 200 penumpang terdampar semalam di bandara, melebihi kapasitas daruratnya.
Badan Meteorologi Jepang sempat mengeluarkan peringatan tsunami, dengan gelombang setinggi 70 sentimeter tercatat di Pelabuhan Kuji, Iwate. Semua peringatan dicabut pada Selasa pagi.
Pasca-gempa ini, Jepang mengaktifkan peringatan gempa susulan untuk wilayah pesisir utara, pertama kali sejak sistem ini diperkenalkan pada 2022. Peringatan mencakup 182 kota dan kabupaten di Hokkaido, Aomori, Iwate, Miyagi, Fukushima, Ibaraki, dan Chiba. Otoritas meminta warga menyiapkan evakuasi segera, mengamankan perabotan, dan memeriksa persediaan darurat.
Peringatan ini didasarkan pada lokasi gempa yang berada di zona sumber potensial gempa besar di sepanjang Palung Jepang dan Palung Kuril. Proyeksi skenario terburuk memperkirakan hingga 199.000 korban jiwa dari gempa di Palung Jepang dan 100.000 dari Palung Kuril, dengan potensi tsunami mencapai 30 meter dan kerugian ekonomi hingga 48 triliun yen (HK$2,4 triliun).
Pemerintah juga menyoroti risiko tambahan akibat musim dingin, seperti kemungkinan runtuhnya bangunan dan bahaya kebakaran. Peringatan ini berlaku hingga 16 Desember, dengan catatan bahwa gempa lebih besar tidak pasti terjadi, tetapi risiko saat ini jauh lebih tinggi dari normal.***







