Scroll untuk baca artikel
Kabar BMI

Larangan Membawa Buah ke Indonesia dari Luar Negeri, TKW Hongkong Minta Penjelasan Bea Cukai

×

Larangan Membawa Buah ke Indonesia dari Luar Negeri, TKW Hongkong Minta Penjelasan Bea Cukai

Sebarkan artikel ini

Baru-baru ini, kabar mengenai larangan membawa buah ke dalam negeri oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali menghebohkan publik, menyoroti peran instansi Bea Cukai. Yuni, seorang TKW di Hongkong, merasa perlu mencari klarifikasi dari pihak Bea Cukai melalui panggilan video.

Dalam panggilan tersebut, layanan Bea Cukai menjelaskan alasan di balik larangan membawa tumbuhan, buah, dan hewan masuk ke Indonesia. Dilansir dari kanal YouTube Yuni TKW Hong Kong @CURHATAN BMI yang tayang pada 22 Juni 2024, Yuni menghubungi Feri, seorang petugas layanan informasi Bea Cukai, untuk mendapatkan penjelasan.

Yuni mengatakan bahwa banyak TKI mendengar kabar larangan ini dan menginginkan kejelasan. “Ini karena heboh, semua orang mengirimi tentang Bea Cukai, buah-buahan ini, maka saya membahas tentang Bea Cukai,” kata Yuni.

Yuni juga menambahkan bahwa Bea Cukai sering menjelaskan aturan, tetapi kurang memahami situasi di lapangan. “Kalau selama ini yang saya dengarkan kalau Bea Cukai itu menjelaskan, tapi Bea Cukai kan tidak tahu lapangannya seperti apa dan bagaimana,” sambungnya kepada Feri.

Feri menjelaskan bahwa di daerah perbatasan, Bea Cukai memiliki tiga tugas utama: Custom, Immigration, dan Quarantine. Ia menjelaskan kronologi terkait video yang menunjukkan seorang WNI dilarang membawa buah di ruangan karantina. “Di video yang kemarin itu sudah masuk ranah karantina bu, kenapa ada unit karantina ini untuk menjaga virus atau bakteri masuk ke wilayah Indonesia,” jelas Feri.

Ia menjelaskan bahwa larangan ini berlaku untuk tumbuhan dan produk tumbuhan, hewan, serta ikan. Salah satu alasan utamanya adalah untuk mencegah penyebaran telur lalat buah yang bisa merugikan petani di Indonesia. “Kalau tumbuhan itu kenapa? Karena memang ada penyakit yang dibawa oleh buah itu, yaitu telur lalat buah,” tambah Feri.

Jika telur lalat buah tersebut berkembang, dapat merusak hasil panen petani lokal dan menghambat ekspor. “Kalau itu sampai berkembang, kasihan para petani kita di sini, tidak bisa dijual bahkan nggak bisa ekspor,” pungkasnya.