Scroll untuk baca artikel
Berita

Pasangan TKI di Jepang Meninggal setelah Makan Kentang Bertunas, Ini Bahaya yang Sering Dianggap Sepele!

×

Pasangan TKI di Jepang Meninggal setelah Makan Kentang Bertunas, Ini Bahaya yang Sering Dianggap Sepele!

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Media sosial tengah ramai membicarakan kabar duka pasangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang yang diduga meninggal dunia usai mengonsumsi kentang bertunas.

Unggahan tersebut mencuat di platform X (dulu Twitter) lewat akun @tanyarlfes yang menyoroti potensi bahaya kentang yang tampak sepele.

“Kentang bertunas se Bahaya itukah? Sumpehhh loh sender syiksyaksyok krna baru tau ngeuri banget yakkk,” tulis akun tersebut, disertai foto kentang bertunas dan tangkapan layar penjelasan terkait risikonya.

Baca juga: TKI di Jepang Diduga Acungkan Pisau ke Rekannya setelah Pesta Miras, TKP di Sapporo

Walau hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai kebenaran kabar meninggalnya pasangan TKI tersebut, kisah ini kembali membuka mata publik akan risiko nyata dari kentang yang tak layak konsumsi.

Kentang sebenarnya adalah sumber karbohidrat yang bernutrisi tinggi, mengandung vitamin C, B6, dan serat. Namun, penyimpanan yang salah bisa membuatnya beracun.

Menurut laman kesehatan EatingWell, yang dikutip suarabmi.co.id dari Sindonewa, kentang yang berubah hijau, bertunas, atau membusuk mengandung senyawa alami bernama glikoalkaloid, termasuk solanin dan chaconine.

Baca juga: Tangisan Pecah di Bandara! Jenazah TKI Asal Lampung Timur Tiba dari Jepang, Kisahnya Bikin Haru

Kedua zat ini adalah mekanisme pertahanan alami tanaman dari hama, namun berbahaya jika dikonsumsi manusia dalam jumlah tinggi.

Gejalanya bisa meliputi mual, muntah, sakit kepala, diare, bahkan gangguan neurologis seperti kebingungan hingga kelumpuhan ringan. Dalam kasus ekstrem, glikoalkaloid bahkan dapat menyebabkan kematian.

Salah satu insiden yang tercatat adalah kasus di Inggris pada 2013, di mana satu keluarga mengalami keracunan setelah mengonsumsi sup dari kentang tua dan bertunas. Dua anak sempat dirawat intensif akibat efek keracunan yang parah, namun keduanya akhirnya pulih.

Baca juga: TKI Bali Meninggal di Jepang Akibat Komplikasi, Pemulangan Jenazah Ni Kadek Ari Terhambat Status Ilegal, Keluarga Open Donasi

Mengutip National Institutes of Health (NIH), kandungan glikoalkaloid paling banyak ditemukan pada kulit kentang, area sekitar tunas, dan bagian yang berubah warna hijau. Oleh karena itu, penting mengenali ciri kentang yang sudah tidak aman dikonsumsi, antara lain:

  • Bertunas dengan ukuran cukup besar
  • Kulit berubah menjadi hijau
  • Tekstur kentang lembek atau berkeriput
  • Rasa pahit atau aneh saat dimasak

Jika tunas hanya kecil dan tidak ada perubahan warna atau rasa, kentang masih bisa dikonsumsi dengan catatan bagian yang mencurigakan dibuang sepenuhnya. Namun, bila ragu, sebaiknya tidak dikonsumsi demi keamanan.

Tips Menyimpan Kentang Agar Tetap Aman:

  • Simpan di tempat sejuk, gelap, dan kering (hindari kulkas)
  • Jauhkan dari sinar matahari langsung
  • Jangan menyimpan dekat bawang
  • Rutin periksa kondisi kentang dan buang jika rusak

Kisah ini menjadi pengingat penting akan risiko kesehatan dari bahan makanan yang tampaknya biasa, namun bisa membawa dampak fatal jika diabaikan.***

Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.

==