Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengaku menjadi korban dugaan penipuan berkedok pinjaman online. Korban yang saat itu sedang membutuhkan uang mencoba mengajukan pinjaman melalui WhatsApp kepada seorang perempuan yang mengaku sebagai admin layanan pinjaman. Memakai foto di atas.
Awalnya, korban diminta mentransfer uang sebesar Rp550 ribu dengan alasan biaya administrasi. Karena dijanjikan pinjaman akan segera cair, korban pun menuruti permintaan tersebut dan melakukan transfer.
Setelah itu, korban diperkenalkan kepada seseorang yang disebut sebagai “atasan” dari admin tersebut. (foto laki laki) Namun bukannya dana pinjaman cair, korban justru kembali diminta mentransfer uang dengan berbagai alasan.
Pelaku meminta korban mentransfer Rp1 juta untuk proses pencairan. Setelah uang dikirim, pelaku kembali meminta Rp1,5 juta, kemudian Rp2 juta. Korban yang sudah terlanjur berharap pinjamannya segera cair akhirnya terus mengikuti permintaan tersebut.
Ketika korban mengatakan sudah tidak memiliki uang lagi, salah satu pelaku bahkan mengaku akan menalangi sebagian dana sebesar Rp1 juta agar proses pencairan bisa tetap berjalan. Korban kemudian diminta mentransfer lagi sebesar Rp2,5 juta yang disebut sebagai pembayaran terakhir.
Namun setelah uang tersebut dikirim, dana pinjaman yang dijanjikan tetap tidak pernah cair. Bahkan pelaku kembali meminta korban untuk melakukan transfer lagi.
Merasa tertipu, korban akhirnya menolak dan mengatakan akan memviralkan kejadian tersebut. Namun pelaku justru membalas dengan ancaman. Pelaku menakut-nakuti korban dengan mengatakan data pribadinya akan disalahgunakan, bahkan mengancam korban bisa dibuat memiliki utang dan diblacklist dari imigrasi Taiwan.
Tidak hanya itu, pelaku juga sempat meminta korban mengembalikan uang sebesar Rp1 juta, meskipun korban sudah mengalami kerugian besar.
Total uang yang telah ditransfer korban kepada para pelaku mencapai sekitar Rp7 juta, namun pinjaman yang dijanjikan tidak pernah cair.
Korban akhirnya memutuskan memblokir nomor kedua pelaku tersebut. Meski begitu, pelaku sempat kembali menghubungi menggunakan nomor baru untuk melanjutkan ancaman.
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya para pekerja migran, agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pinjaman online yang meminta biaya di awal, karena hal tersebut sering kali menjadi modus penipuan. 🚨




