Kabar Indo

Seperti Penjara Tidak Nyata, Kekhawatiran PMI Hongkong Ditengah Menggilanya Kasus Saat ini

×

Seperti Penjara Tidak Nyata, Kekhawatiran PMI Hongkong Ditengah Menggilanya Kasus Saat ini

Sebarkan artikel ini
Seperti Penjara Tidak Nyata, Kekhawatiran PMI Hongkong Ditengah Menggilanya Kasus Saat ini

Dari semenjak awal Februari, kasus omicron di Hong Kong terus naik dan pemerintah sudah mengungkapkan rencana untuk mengadakan tes massal sebanyak tiga kali untuk sekitar 7,4 juta warga yang tinggal di sana.

Sebagaimana diketahui pada awal Februari jumlah kasus di Hong kong hanya berkisar 100 per hari namun sekarang, awal maret dalam sepekan terakhir kasus bergerak di kisaran 30 ribu sampai 50 ribu per hari.

Selain itu, angka kematian juga meningkat dimana tertinggi pada 7 Maret dalam sehari ada 287 kematian di Hongkong akibat virus ini. Hingga saat ini, 2300 orang dinyatakan meninggal sejak awal pandemi.

Pemerintah Hong Kong belum mengumumkan secara pasti kapan tes massal akan dilakukan namun beberapa pejabat sudah menyerukan agar warga tidak panik.

Banyak supermarket sudah digeruduk oleh pembeli yang panik yang membeli berbagai kebutuhan pokok rumah tangga karena mengantisipasi bakal adanya lockdown.

Ketakutan akan lockdown ini karena kabar dimana pasca test masal selama 9 hari warga dilarang untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Sri Martuti, salah seorang TKW Indonesia yang sudah bekerja di Hong Kong selama 12 tahun berharap kemungkinan itu tidak terjadi.

“Kita tahu bahwa lockdown ini bukan sebuah solusi yang bagus. Kami berharap ini semua cuma sebatas wacana. Namun meski baru sebatas wacana ini sudah benar-benar menghancurkan mental kita,” Ungkap wanita yang juga aktif menajdi aktivis di kalangan BMI Hongkong ini sebagaimana dikutip dari ABC Indonesia.

“Kami sudah dua tahun hidup dalam penjara yang tidak nyata karena sejak pandemi banyak majikan yang mengambil kesempatan memperbudak kami,” katanya.

Menurutnya, pandemi ini banyak membuat sebagian PMI di Hong kong merasa ketakutan dan diskriminasi. Salah satu bentu diskriminasi itu adalah beberapa kasus pekerja migran di Hong kong diusir majikannya saat mereka dinyatakan positif bahkan diberhentikan sepihak dari pekerjaannya.

“Mereka takut menjadi gelandangan dalam keadaan positif bila diusir oleh majikan,” kata Martuti. Selain itu, ia juga mengatakan ada ketakutan lain jika mereka tidak terusir, mereka harus tetap bekerja di rumah majikan yang penuh sesak dalam kondisi karantina karena kebanyakan tidak memiliki kamar pribadi.

Berdasarkan pengakuannya, dalam sepekan terakhir, dia sudah mendapatkan laporan sekurangnya 30 pekerja migran yang positif.

“Itu yang kita ketahui, entah berapa orang yang tidak mengakui dan kita tidak bisa menyalahkan mereka karena bagaimana pun kita tahu adanya diskriminasi dan kemungkinan perlakuan buruk dari majikan bila mereka positif,” kata Martuti, yang juga mengatakan dia sendiri tidak memiliki kamar khusus di rumah majikannya.

Namun kisah sedih yang dialami oleh Maruti ini tidak dirasakan oleh Linda Susanti. TKW yang sudah 10 tahun bekerja ini bersyukur memiliki majikan yang baik hati. Bahkan ia baru saja dinyatakan positif beberapa pekan lalu.

“Adik majikan saya pertama kena, kemudian nenek dari anak yang saya asuh juga terkena lalu saya, Gejala saya tidak parah sih, cuma batuk, pilek saja, dan sakit tenggorokan” kata Linda

Linda beruntung, ia menjalani masa karantina dirumah lama majikannya yang sudah ditempati lagi, jadi ia bisa fokus istirahat hingga kondisinya pulih.

“Saya biasanya tinggal dengan adik majikan saya, nenek dan anak yang asuh, sementara majikan tinggal di rumah yang lain. Setelah positif, saya kembali ke rumah majikan dan disuruh isolasi ke rumah yang satu lagi. Saya alhamdulillah merasa beruntung bisa tinggal di rumah majikan yang memang kosong,” kata Linda.

Seorang pekerja migran lainnya Rusmiati (46 tahun) asal Banyumas, Jawa Tengah, juga merasa beruntung masih bisa isolasi di rumah karena seluruh keluarga majikannya positif terkena COVID.

Baik Linda Susanti dan Rusmiati merasa beruntung bahwa mereka mendapatkan fasilitas yang baik selama bekerja dan saat terkena COVID.

“Namun banyak juga teman-teman yang kebebasannya terkekang, hari libur tidak boleh libur, itu banyak juga,” kata Linda.

Kita semua berdoa, agar situasi di Hong kong segera membaik seperti Indonesia dan teman teman yang berada disana diberikan kesehatan dan kembali mendapatkan kebebasan berlibur seperti dulu, selamat berjuang kawan, doa kami menyertaimu…!

Sumber ABC Indonesia