Suarabmi.co.id – Profesi sebagai kurir pengantar makanan menjadi pilihan utama bagi banyak mahasiswa dan pemegang Working Holiday Visa (WHV) asal Indonesia di Australia.
Fleksibilitas kerja dan penghasilan tambahan membuat pekerjaan ini diminati, terutama di kota Melbourne.
Kurir Makanan: Pekerjaan Fleksibel Favorit WNI di Australia
Tiwi Rizqi, perempuan asal Bogor yang tinggal di Melbourne mengikuti suaminya yang sedang menempuh studi S2, memilih menjadi pengantar makanan setelah sempat bekerja sebagai cleaner dan di pabrik cokelat
Tiwi bekerja sekitar lima hari dalam seminggu dengan durasi empat jam per hari menggunakan sepeda listrik atau e-bike.
Baca Juga: Bulan Depan ada Wacana Menkeu Tarik Dolar Para WNI yang Disimpan di Luar Negeri
“Karena saya juga punya anak, jadi saya tidak bisa kerja full-time. Kebetulan saya suka keluar, jadi kenapa tidak sambil jalan-jalan dan dapat uang? Akhirnya saya pilih Uber Eats,” ujar Tiwi kepada ABC Indonesia.
Dilansir oleh suarabmi.co.id, pekerjaan ini populer di kalangan mahasiswa Indonesia karena menawarkan waktu kerja yang fleksibel dan pendapatan yang kompetitif.
Risiko dan Pelanggaran Penggunaan Sepeda Listrik
Meski menjadi pekerjaan favorit, ada peringatan agar para kurir pengantar makanan tetap waspada terutama terkait keselamatan berkendara.
Monash University bersama Victorian Automotive Chamber of Commerce (VACC) melaporkan sejumlah pelanggaran oleh pengantar makanan yang menggunakan sepeda listrik di Melbourne.
Pelanggaran yang umum ditemukan antara lain modifikasi sepeda listrik yang membahayakan, berkendara di trotoar, melaju ke arah berlawanan di jalan raya, serta menggunakan telepon seluler saat berkendara.
Baca Juga: Awalnya Ditawari jadi TKI, 7 WNI Disekap di Myanmar
Doni, salah satu kurir asal Indonesia yang meminta identitasnya disamarkan, mengaku pernah memodifikasi sepedanya agar dapat mengejar bonus dari platform pengantar makanan. “Dulu saya pakai e-bike ilegal supaya bisa cepat antar pesanan, apalagi kalau sedang ada quest untuk bonus,” ujarnya.
Dalam seminggu, Doni menargetkan penghasilan sebesar 800 dollar Australia (Rp 8 juta) sampai 900 dollar Australia (Rp 9 juta). Mengantar makanan menjadi tambahan penghasilan bagi Doni, yang juga bekerja di sebuah restoran cepat saji di Melbourne. Demi bisa mengejar kecepatan dan bonus, Doni menggunakan sepeda listrik ilegal yang menggunakan throttle.
Namun, penggunaan sepeda listrik ilegal dengan throttle yang memungkinkan kecepatan tinggi sangat tidak aman.
Pada Agustus 2025, Kepolisian Victoria melakukan razia dan mengeluarkan 37 denda terhadap pengantar makanan yang melanggar aturan lalu lintas, seperti bersepeda di trotoar, melaju ke arah yang salah, dan mengabaikan rambu lalu lintas.(*)
Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.







