Scroll untuk baca artikel
Ruang Baca

Deretan Kisah Pilu TKI Taiwan Tertipu Cinta Online: Ada yang Dihamili, Ditipu Uang Puluhan Juta, hingga Nyaris Akhiri Hidup

×

Deretan Kisah Pilu TKI Taiwan Tertipu Cinta Online: Ada yang Dihamili, Ditipu Uang Puluhan Juta, hingga Nyaris Akhiri Hidup

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Fenomena penipuan berkedok percintaan online semakin banyak menjerat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus dilaporkan ke organisasi perlindungan buruh migran dan Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI), memunculkan kekhawatiran baru akan kerentanan sosial dan hukum yang dihadapi para Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Salah satu kasus menimpa Nani (nama samaran), seorang PMI berusia 30-an yang sudah delapan tahun bekerja di Taiwan. Setelah mengenal seorang pria sesama WNI lewat aplikasi kencan “TT”, hubungan mereka berlangsung selama enam bulan.

Menurut laporan CNA yang dikutip suarabmi.co.id, dalam masa tersebut, pria itu meminta uang dengan alasan menawarkan pekerjaan untuk keluarga Nani dan mengurus izin tinggal permanen (APRC).

Tanpa curiga, Nani mentransfer total NT$160.000 atau sekitar Rp85 juta secara bertahap. Ia juga diminta menyerahkan salinan paspor dan ARC.

Namun setelah menanyakan perkembangan pengurusan APRC, pria tersebut menghilang dan memblokir seluruh akses komunikasi. Kasus ini kemudian dilaporkan ke polisi oleh Wanti dari Garda BMI, organisasi yang aktif mendampingi PMI di Taiwan.

Dalam kasus lain, seorang TKI wanita yang bekerja sebagai perawat lansia justru mengalami pelecehan emosi lebih dalam. Setelah menjalin hubungan dengan pria dari aplikasi yang sama, ia hamil. Namun setelah memberi tahu kehamilannya, pria tersebut langsung memutus kontak.

Beruntung, majikannya memberikan dukungan dan tetap mengizinkannya bekerja serta melahirkan di Taiwan. Kini, bayinya dititipkan di sebuah panti asuhan di Taipei.

Ada pula kisah memilukan dari Sri (nama samaran), seorang PMI sekaligus ibu yang terjerat rayuan penipu yang mengaku warga negara Amerika di Facebook. Pria itu mengklaim sebagai tentara dan menjanjikan pernikahan, namun meminta Sri mengirim uang karena gajinya belum bisa dicairkan. Setelah uang dikirim, ia menghilang. Sri mengalami depresi berat hingga hampir bunuh diri.

“Saya dan seorang teman sempat menjemput Sri di stasiun Taoyuan. Kemudian saya membawanya ke musala Zhongli dan saya juga mengantarnya ke KDEI untuk laporan,” ujar Wanti.

Wanti menyebut aplikasi kencan online sangat rawan bagi PMI, terutama yang belum memahami risiko kejahatan digital. Ia menyoroti potensi keterlibatan dalam sindikat narkoba, perdagangan orang, atau bahkan penyebaran penyakit menular seksual.

“Mereka bisa saja terseret ke sindikat narkoba atau pelacuran. Bahkan risiko tertular HIV dan penyakit kelamin lain juga tinggi,” jelasnya.

Menanggapi fenomena ini, Wakil Kepala KDEI Johanes Andi Susanto menegaskan bahwa pihaknya siap menindaklanjuti setiap laporan yang masuk, bahkan jika pelaku berada di Indonesia.

“Tugas kami di sini melayani WNI terkait masalah apapun juga termasuk masalah hukum,” tegasnya. Ia juga mendorong PMI untuk tidak ragu menghubungi hotline KDEI jika mengalami masalah serupa.***

Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.

==