Scroll untuk baca artikel
Ruang Baca

Rela Jadi TKW demi Modal Usaha, Kini Anak Ibu Ini Masuk Fakultas Kedokteran

×

Rela Jadi TKW demi Modal Usaha, Kini Anak Ibu Ini Masuk Fakultas Kedokteran

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Dari sebuah rumah sederhana di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, kisah keluarga Pak Suroso mengajarkan arti perjuangan dan pengorbanan.

Demi menyelamatkan usaha kecil-kecilan suaminya, sang istri memilih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan selama tiga tahun. Kini, hasil jerih payah itu berbuah manis: anak mereka berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Awal tahun 2000-an, usaha cobek batu milik Pak Suroso nyaris gulung tikar. Modal menipis, pembeli sepi, dan kebutuhan hidup terus mendesak. Di tengah tekanan itu, sang istri mengambil keputusan besar merantau ke Taiwan untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

“Istri saya itu menyupport dana habis, modal habis pergi ke Taiwan. Selama 3 tahun, alhamdulillah bisa berjalan lagi,” kenang Pak Suroso, dikutip dari YouTube Pecah Telur.

Selama sang istri bekerja di luar negeri, Pak Suroso harus menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu. Ia masih ingat bagaimana anak pertamanya yang masih kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan rumah.

“Saya terharu. Anak saya masih kecil, tapi sudah rajin nyapu-nyapu, cuci baju sendiri. Ibunya di Taiwan, jadi ikut saya terus,” ujarnya.

Lambat laun, usaha cobeknya kembali menggeliat. Ia berkeliling menjajakan produknya dari Malang hingga Blitar, membagikan kartu nama di pasar-pasar. Jerih payah itu membuka pintu rezeki.

Kini, ia mempekerjakan sekitar 10 warga setempat yang memproduksi puluhan cobek setiap harinya, dengan harga jual mulai dari Rp7.500 hingga Rp90.000 tergantung ukuran.

Namun bagi Pak Suroso, pencapaian terbesar bukanlah dari segi omzet, melainkan keberhasilan anaknya menembus fakultas kedokteran. “Alhamdulillah, anak saya punya pendirian sekolah kuat. Sekarang sudah masuk fakultas kedokteran. Saya sudah bangga sekali,” katanya penuh haru.

Tak hanya kerja keras, nilai-nilai spiritual juga memegang peran penting dalam hidupnya. Ia menceritakan saat hanya memiliki Rp400 ribu sementara harus menggaji karyawan Rp9 juta. Meski dalam kesulitan, ia tetap bersedekah separuh uang itu.

Tak lama, datang pembeli besar yang memborong produknya. “Orang susah kok malah sedekah. Tapi alhamdulillah, itu benar-benar dibalas berlipat oleh Gusti Allah,” ungkapnya.

Kini, usaha cobek batu milik Pak Suroso bukan hanya menopang hidup keluarganya, tapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Sementara itu, sang anak sedang menapaki jalan menuju cita-cita menjadi dokter.

Sebuah kisah nyata yang membuktikan bahwa pengorbanan seorang ibu dan ketekunan seorang ayah bisa mengubah masa depan keluarga secara nyata.***

Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.

==