Suarabmi.co.id – Sebuah keluarga di Singapura dikejutkan oleh rekaman CCTV yang memperlihatkan pengasuh asal Indonesia memperlakukan bayi mereka secara kasar, termasuk aksi saat kepala sang bayi terbentur ke boks tidurnya.
Ibu sang bayi, yang menggunakan nama JP, membagikan rekaman kejadian itu dan menyebut bahwa dugaan kekerasan terjadi sebanyak tiga kali: pada 23 September, 29 September, dan 11 Oktober, antara pukul 9.45 malam hingga 5.45 pagi.
“Sebagai orangtua, kami percaya pada orang yang kami pekerjakan untuk menjaga anak kami,” ujar JP, ddikutip suarabmi.co.id dari Stomp Sg. Ia mengisahkan bahwa ketika perekrutan, sang PRT mengaku sangat menyukai anak kecil dan terbiasa merawat bayi.
Selama bekerja, keluarga itu mengaku memperlakukan sang TKW Indonesia dengan baik: menghormati pantangan makanannya, memberi kebebasan menggunakan ponsel, bahkan mengajaknya liburan ke luar negeri selama dua minggu tanpa biaya. Namun, setelah tiga bulan, kepercayaan itu runtuh.
Melalui rekaman CCTV, mereka melihat bayi mereka yang baru berusia 10 bulan diperlakukan kasar berulang kali. JP mengatakan bahwa meski sudah diberi peringatan, tindakan tersebut tetap terjadi lagi. Selain perlakuan keras, sang TKI juga disebut kadang tertidur di playpen si bayi dan mengabaikan tugas-tugas rumah.
Dampaknya bagi keluarga sangat besar. JP mengaku mengalami tekanan emosional: sulit tidur, mudah panik setiap kali mendengar tangisan anak, dan selalu diliputi kekhawatiran.
Situasi makin berat ketika mereka menghubungi agensi. Harapan akan adanya tanggung jawab justru pupus ketika agensi dinilai lebih condong melindungi pekerja tersebut. Secara hukum, kasus itu pun sulit diproses karena tidak ada luka fisik yang terlihat, sehingga sang PRT hanya mendapat peringatan dan tetap boleh bekerja kembali.
“Pengalaman ini mengubah keluarga kami. Kami jadi selalu waspada, selalu memantau, tapi rasa takut dan kecewanya tetap ada,” kata JP.
Ia berharap dengan menceritakan pengalaman pahit tersebut, orangtua lain akan lebih berhati-hati dan agensi dituntut untuk lebih bertanggung jawab. Ia juga mengajak pihak berwenang agar menyadari bahwa kekerasan tidak selalu meninggalkan luka tampak.
Menurutnya, kerusakan emosional, tindakan agresif berulang, serta ancaman pada rasa aman anak juga sama pentingnya untuk dilindungi. “Percayalah pada insting kalian, cek dengan teliti, dan jangan kompromi soal keselamatan anak,” ujarnya.***







