Scroll untuk baca artikel
Berita

Pekerja Migran ini Nekat Minta Gaji 2 Bulan di Muka Demi Tiket BTS, Respons Majikan Singapura Bikin Haru

×

Pekerja Migran ini Nekat Minta Gaji 2 Bulan di Muka Demi Tiket BTS, Respons Majikan Singapura Bikin Haru

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Seorang pekerja rumah tangga migran di Singapura menjadi sorotan setelah meminta gaji dua bulan di muka kepada majikannya demi membeli tiket konser BTS.

Pekerja tersebut, seorang perempuan berusia 33 tahun asal Myanmar yang dikenal sebagai “Mo”, telah bekerja selama sekitar tiga setengah tahun di keluarga majikannya. Ia diketahui merupakan penggemar BTS sejak 2015 dan sering membicarakan grup tersebut kepada keluarga majikannya.

Mo selama ini belum pernah menonton konser BTS secara langsung karena keterbatasan finansial. Ia berharap bisa mendapatkan pengalaman menonton dari jarak dekat dengan membeli tiket VIP yang harganya mencapai S$388.

Namun, untuk meningkatkan peluang mendapatkan tiket, ia mempertimbangkan menggunakan jasa pihak ketiga yang mematok biaya tambahan hingga sekitar S$800. Total biaya yang harus dikeluarkan pun menjadi jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Karena itu, pada 24 Mei, Mo menulis surat kepada majikannya untuk meminta gaji dua bulan di muka. Dalam surat tersebut, ia juga menegaskan bahwa tidak masalah jika permintaannya tidak dapat dipenuhi.

Sebelumnya, sang majikan sudah mengetahui keinginan besar Mo untuk menonton konser tersebut, sekaligus kondisi keuangannya. Melihat betapa pentingnya hal itu bagi Mo, Lee justru mengambil langkah tak terduga.

Alih-alih hanya memberikan gaji di muka, Lee menawarkan untuk membayar penuh tiket konser tersebut, bahkan siap menanggung risiko jika terjadi masalah dalam pembelian tiket.

Menurut Lee, Mo bukan tipe orang yang sering meminta hal mahal atau membebani orang lain. Ia juga merasa memiliki hubungan yang dekat dengan Mo, yang selama ini telah membantu merawat anak-anaknya dan menjadi bagian dari keluarga.

Lee mengatakan bahwa ia ingin membantu mewujudkan impian Mo sebagai bentuk apresiasi. Ia bahkan menyebut bahwa kebahagiaan Mo jauh lebih berharga dibandingkan uang yang dikeluarkan.(*)

==