Kabar BMI

Baru 10 Bulan di Hongkong, Sudah Jadi Raja Hutang Demi Keluarga, Total 160 Juta di Bank Hong kong

×

Baru 10 Bulan di Hongkong, Sudah Jadi Raja Hutang Demi Keluarga, Total 160 Juta di Bank Hong kong

Sebarkan artikel ini

Hong Kong, 7 Desember 2023 – Dibalik gemerlapnya kehidupan di pusat keuangan Asia, terdapat kisah seorang tenaga kerja migran yang telah menetap di Hong Kong selama 10 bulan terakhir. Namun, kehidupannya di negara tersebut tak sepenuhnya bersinar, terutama setelah terjebak dalam jerat hutang yang kian memuncak.

Perempuan yang enggan disebutkan namanya ini, memiliki beban hutang yang menggunung di lima bank berbeda di Hong Kong. Total hutangnya mencapai lebih dari 160 juta atau setara dengan 81.000 HKD, dengan satu bank menjadi pinjaman terbesar mencapai 47.000 HKD.

Iklan

Kisah tragis ini semakin rumit dengan kenyataan bahwa majikan perempuan ini tidak lagi menginginkan jasanya jika ia ketahuan, meninggalkannya dalam kebimbangan finansial. Keinginan untuk hanya mengambil pinjaman dari satu bank tertentu kandas karena desakan dari keluarga di kampung halaman yang menuntut lebih banyak pinjaman.

Terperangkap dalam situasi yang sulit, perempuan ini bahkan terpaksa menggadaikan paspornya di Hong Kong untuk mendapatkan dana tambahan, menambah daftar dilema yang harus dihadapi. Keberanian untuk berbagi cerita ini hanya terbatas pada suaminya, sementara keluarga besar di Indonesia belum mengetahui beban finansial yang dia tanggung.

Pilihan menggunakan alamat majikan untuk berhutang di 5 bank menambah risiko hukum yang tidak diinginkan. Perempuan ini mengakui kekhawatiran akan konsekuensi hukum di Hong Kong, tetapi tetap enggan kembali ke Indonesia karena keluarganya di sana juga terperangkap dalam jerat hutang.

Keadaan semakin sulit dengan kenyataan bahwa perempuan ini tidak hanya memiliki hutang di Hong Kong, tetapi juga di Indonesia yang belum terlunasi. Upaya untuk tetap jujur dan terbuka dengan suami serta keluarga di tanah air menjadi langkah sulit yang harus diambil.

Dalam menjalani masa-masa sulit ini, perempuan ini berkomitmen untuk mencari solusi yang bijaksana, merencanakan pembayaran yang terstruktur, dan berbicara terbuka dengan pihak bank. Kejujuran diakui sebagai kunci utama dalam menjaga hubungan baik, terutama di tengah situasi keuangan yang rumit.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa hidup sebagai tenaga kerja migran tidak selalu berjalan mulus, dan tantangan finansial bisa datang dari berbagai arah. Semoga dengan upaya dan dukungan yang tepat, perempuan ini dapat menyelesaikan krisis keuangannya dan memulihkan stabilitas finansialnya.