Scroll untuk baca artikel
Kabar BMI

Dikira Turun Peranakan, TKI di Taiwan ini Justru Alami Tumor Rahim dan Harus Operasi

×

Dikira Turun Peranakan, TKI di Taiwan ini Justru Alami Tumor Rahim dan Harus Operasi

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di New Taipei City, Taiwan, harus menjalani operasi pengangkatan tumor rahim setelah sebelumnya mengira sakit yang ia alami hanya karena “turun peranakan”.

Kisah ini diungkap dalam rilis pers organisasi Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS) Community, yang menyebut bahwa perempuan tersebut, disamarkan dengan nama Ati, kini harus menghentikan pekerjaannya dan pulang ke Indonesia.

Ati bekerja sebagai perawat migran dan terbiasa membopong pasien setiap hari. Sejak lama, ia sering mengeluhkan rasa tidak nyaman di bagian perut, terutama menjelang menstruasi.

Ia pun rutin meminta bantuan temannya sesama TKI untuk mengurut bagian perut tersebut hampir setiap bulan, karena mengira penyebabnya adalah “turun peranakan”.

Menurut GANAS, selama hampir setahun keluhan Ati tak kunjung membaik. Ia tidak pernah memeriksakan diri ke dokter, padahal memiliki asuransi kesehatan NHI yang bisa digunakan untuk berobat.

Puncaknya terjadi saat Ati tiba-tiba pingsan di tempat kerja. Majikannya yang kebetulan sedang berada di rumah langsung membawanya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, dokter memvonis Ati menderita tumor rahim yang telah membesar dan harus segera dioperasi. Yang mengejutkan, bagian daging yang tumbuh itu bahkan sudah menghitam, diduga karena terlalu sering diurut.

Dokter pun memperingatkan agar perempuan tidak mengurut perut saat menstruasi, karena bisa berisiko memperparah kondisi tertentu.

Ati kemudian memilih untuk pulang ke Indonesia setelah menjalani operasi. Menurut keterangan GANAS, majikannya bersedia membelikan tiket kepulangan dan juga memberikan sejumlah uang sebagai bentuk terima kasih karena Ati telah merawat orang tua mereka dengan baik selama bekerja.

Ketua GANAS, Fajar, menjelaskan bahwa Ati kini berada di shelter milik Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taoyuan, menunggu kepulangan.

“Sekarang Ati sedang ditampung di shelter milik KDEI di Taoyuan. Dia tidak ada uang, hanya NT$7000 (Rp3,8 juta) tersisa. Awalnya kami menghubungi Depnaker Taipei, tetapi dikarenakan keterbatasan shelter penampungan maka mereka menghubungi pihak KDEI,” ujar Fajar kepada CNA yang dikutip suarabmi.co.id.

Fajar juga menyampaikan imbauan kepada para TKI, khususnya perempuan, agar tidak menunda pemeriksaan medis saat mengalami keluhan kesehatan.

“Manfaatkan asuransi kesehatan NHI untuk memastikan kesehatan. Jangan mengurut atau memijat bagian yang sakit untuk dijadikan alternatif pengobatan. Sebaiknya, untuk bagian badan yang vital periksakan ke medis untuk mendapat hasil yang akurat,” katanya.***

Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.

==