“Saya benar-benar capek, sangat capek, Saya selalu mengatakan kepada anak saya kalau saya bukan robot, bertahun-tahun menjaga anak sehingga saya tidak bisa bekerja, “ungkap wanita yang merupakan single parent itu.
Melihat kejadian itu beberapa orang melaporkan ke kantor polisi. Beberapa saat kemudian polisi pun tiba di lokasi dan menenangkan perempuan itu.
Wu sebelum adanya pandemi sudah merekrut pekerja migran, namun sejak adanya pandemi ia tidak bisa lagi mendatangkan pekerja migran. Sehingga, ia harus merawat anaknya yang berumur 22 tahun dan lumpuh sendirian.
Dinas Sosial sebenarnya juga telah mengirim pekerja perawat harian untuk merawat anaknya. Akan tetapi Wu merasa tidak cukup membantu, ia membutuhkan perawat yang bisa merawat anaknya selama 24 jam.
Sebagaimana diketahui, sejak Indonesia menutup pengiriman pekerja migran pertengahan Maret lalu, Taiwan dihadapkan dengan masalah kurangnya masalah pekerja migran perawat pasien yang cukup serius. Setidaknya ada sekitar 60.000 majikan yang sedang menunggu datangnya pekerja migran.







