Suarabmi.co.id -Seorang figur publik di Taiwan yang sebelumnya dikenal sebagai pejuang legalisasi praktik ibu pengganti, kini menghadapi gelombang tudingan serius.
Wu Su-Hui, pendiri “Asosiasi Bayi Kubis” (白菜寶寶協會), dituduh menyalahgunakan kepercayaan pasangan tak subur dengan dalih jasa konsultasi surrogasi luar negeri, namun malah menarik sejumlah biaya tambahan tanpa pelayanan yang jelas.
Tak hanya itu, asosiasi ini juga dituding menyandera dokumen bayi untuk memeras uang lebih banyak.
Baca juga: Pengasuh Bayi di Taiwan Dihentikan Sementara Usai Diduga Menampar Bayi Baru Lahir
Enam tahun lalu, Wu yang kala itu mengalami masalah infertilitas, menempuh jalur surrogasi di Ukraina dan berhasil mendapatkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Kasusnya menarik perhatian media dan membuatnya dikenal luas.
Berdasarkan laporan TVBS yang dikutip suarabmi.co.id, dua tahun kemudian, ia mendirikan organisasi yang mengklaim memberikan layanan konsultasi surrogasi gratis, sembari mendorong legalisasi praktik ini di Taiwan.
Namun belakangan, sejumlah orang yang pernah menggunakan jasanya mengaku dirugikan. Mereka menyatakan Wu menggunakan berbagai alasan untuk menagih uang tambahan, namun tidak memberikan hasil sesuai janji.
Salah satu pelapor, yang diidentifikasi sebagai Tuan A, menyebut bahwa ia dan istrinya sempat diminta membayar lebih dari 40 juta dolar Taiwan untuk proses surrogasi di Kazakhstan.
Menurut A, saat mereka bersama dua pasangan lain tiba di Kazakhstan tahun lalu untuk menjemput anak yang sudah lahir, Wu tiba-tiba menuntut biaya tambahan dengan alasan paspor anak baru dikirim dari Moskow melalui pihak Rusia. Ia juga menyebut A terlalu banyak mengeluh, sehingga menuntut uang ekstra sebelum paspor diserahkan.
Setelah membayar, pasangan ini akhirnya bisa membawa anak mereka pulang ke Taiwan pada Juli tahun lalu, dan pada Januari 2025, melayangkan laporan hukum terhadap Wu atas dugaan penipuan, pengingkaran kepercayaan, serta pelanggaran terhadap Undang-Undang Reproduksi Buatan.
Baca juga: Bayi 1 Bulan di Taiwan Alami Komplikasi Berat Covid-19, Masuk ICU di Tengah Lonjakan Kasus
Tak hanya itu, Wu juga dituduh memfasilitasi pernikahan palsu demi kelengkapan dokumen surrogasi luar negeri. Seorang pria lajang bernama C mengatakan bahwa Wu sempat membujuknya menikah pura-pura dengan seorang perempuan lain demi memenuhi syarat hukum surrogasi di Ukraina, setelah rencana awal di Kirgizstan gagal karena masalah visa.
Kasus serupa juga dialami oleh pria lain, D, yang mengaku diminta membayar NT$20.000 untuk pengurusan surat undangan klinik dan visa medis ke Ukraina. Namun setelah mengetahui bahwa permintaan tersebut tidak sesuai kenyataan, ia membatalkan perjalanan dan memilih pulang ke Taiwan.
Karena banyaknya laporan dan perselisihan dengan klien, sejumlah agen surrogasi luar negeri kini menyatakan secara terbuka memutus kerja sama dengan asosiasi milik Wu.
Baca juga: Fakta Kasus Jasad Bayi dalam Paket Ojol di Medan Sangat Mengejutian, Ternyata Hasil Inses Kakak-Adik
Menurut informasi dari para korban, Wu pernah tersandung kasus hukum sebelumnya karena melanggar Undang-Undang Reproduksi Buatan, namun tetap melanjutkan praktiknya.
Mereka menilai tindakannya menyerupai kelompok perdagangan manusia, karena menahan dokumen anak dan memanfaatkan keinginan kuat para pasangan untuk memiliki keturunan demi keuntungan pribadi.
Saat dihubungi lewat nomor ponsel yang tertera di situs Asosiasi Bayi Kubis, Wu Su-Hui menjawab panggilan namun enggan diwawancarai. Ia menyatakan tengah berada di lingkungan yang bising dan meminta agar wartawan menelepon kembali pada hari kerja setelah akhir pekan, lalu menutup telepon.***
Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.







