Kepala Departemen di Kantor Hanoi “IM JAPAN,” Nishizawa Hidekazu, menjelaskan bahwa “sistem pelatihan magang yang telah kami gunakan akan segera diubah menjadi sistem kerja dengan pengembangan keterampilan.”
Parlemen Jepang baru-baru ini meloloskan Undang-Undang “Pekerja Pengembangan Keterampilan” pada bulan Juni. Melalui undang-undang ini, pekerja migran yang mencapai tingkat keterampilan tertentu akan dapat mengganti majikan setelah bekerja selama satu hingga dua tahun, serta memperpanjang visa mereka tanpa batas waktu. Hal ini membuat banyak pekerja Vietnam sangat antusias.
“Saya memiliki kontrak kerja selama tiga tahun, tetapi saya berharap bisa kembali ke Jepang setelah tiga tahun dan melanjutkan bekerja di sana. Semoga saya bisa mendapatkan pendapatan yang lebih stabil untuk memperbaiki kondisi ekonomi,” ungkap seorang pekerja Vietnam, Tran Thi Thanh.
Tidak hanya Jepang, Korea Selatan juga turut serta dalam perebutan tenaga kerja migran. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian, pada tahun 2024, pemerintah Korea Selatan memperkenalkan visa kerja jangka pendek selama enam bulan bagi keluarga pelajar internasional. Ditambah dengan upah yang relatif tinggi, semakin banyak pekerja Vietnam yang berminat untuk bekerja di Korea.
Meski demikian, Taiwan masih menjadi pilihan menarik bagi sebagian besar pekerja Vietnam yang ingin segera bekerja di luar negeri.







