Suarabmi.co.id – Toni, nelayan migran asal Indonesia yang bekerja di pelabuhan Nanfang’ao, Yilan, Taiwan, kini tengah berjuang melawan leukimia akut. Kondisi Toni semakin memburuk dan memerlukan biaya pengobatan yang sangat tinggi, sekitar NT$500.000 (sekitar Rp274 juta), yang kini menjadi beban besar bagi dirinya dan keluarganya.
Menurut laporan dari Serve the People Association (SPA), asuransi kesehatan Toni dihentikan setelah ia mengalami kecelakaan kerja beberapa waktu lalu, membuatnya harus mengandalkan tabungannya yang kini telah habis.
Toni datang ke Taiwan dan bekerja sebagai nelayan di Yilan selama lebih dari satu tahun. Selama bekerja di laut, ia sering merasakan kelelahan yang luar biasa, serta keluhan seperti mimisan dan gusi berdarah.
Menurut laporan Fokus Taiwan dyang dikutip Suara BMI, awalnya, ia mengira gejala tersebut hanya akibat jadwal tidurnya yang tidak teratur sebagai seorang pelaut.
Namun, saat bekerja menangkap ikan, jari tangan Toni terjepit mesin, dan akibatnya ia terpaksa keluar dari kapal dan hanya menerima kompensasi kecelakaan sebesar NT$2.000. Setelah kejadian itu, asuransi kesehatannya dihentikan, dan Toni harus membiayai pengobatannya sendiri.
Dalam kondisi yang semakin lemah, Toni tak mampu membayar biaya pengobatan dan merasa terjebak dalam keterbatasan finansial. Namun, pada bulan Maret, ketika berada di shelter yang disediakan untuk para migran, Toni tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosisnya dengan leukemia limfoblastik akut, jenis kanker darah yang menyerang sumsum tulang. Situasi Toni begitu kritis sehingga dokter sempat memberi peringatan kepada keluarga bahwa peluang untuk bertahan hidup sangat kecil, bahkan mereka menyarankan agar mempersiapkan kemungkinan terburuk.
Dalam kondisi yang sangat sulit, Toni mencoba tetap tegar. Ketika ditanya tentang perasaannya, Toni hanya tersenyum sambil berkata, “Aku belum menikah dan aku belum punya pacar. Apakah aku akan mati seperti ini?” kata-katanya menggambarkan keputusasaan yang ia rasakan di tengah perjuangannya melawan penyakit ini.
Untuk bertahan hidup, Toni membutuhkan transplantasi sel punca, yang diperkirakan akan memakan biaya lebih dari NT$500.000 (Rp274 juta). Jumlah tersebut sangat besar, terutama bagi keluarga nelayan di Indonesia, yang kemungkinan besar sulit untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.
Saat ini, Toni sedang menjalani kemoterapi tahap pertama, dan ayahnya yang belum pernah keluar negeri, telah terbang ke Taiwan untuk merawatnya. Kehadiran sang ayah di bangsal rumah sakit menjadi dukungan moral yang sangat berarti bagi Toni dalam masa-masa sulit ini.
Ketua Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS), Fajar, mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya akan menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan Toni.
“Kami, GANAS, dan SBIPT akan membantu juga untuk menggalang dana bagi Toni dan menyebarkan rilis pers dari SPA ini ke rekan-rekan PMI yang lainnya, agar Toni bisa terbantu,” ungkap Fajar.***
Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung diĀ Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.







