Fauzan Salihin, kapten kapal, mengatakan kepada CNA dalam pesan teks awal bulan ini bahwa dia dan krunya membutuhkan bantuan untuk kembali ke keluarga mereka di Indonesia.
“Saya punya orang tua, seorang istri dan anak-anak menunggu saya di rumah. Tolong bisakah Anda membantu saya kembali ke rumah karena kru saya menjadi stres dan gila. Pak tolong, sudah enam bulan, pemilik belum membayar gaji kami, tolong bantu saya pulanglah, tolong,” pinta Fauzan.
Biro Kelautan dan Pelabuhan mengatakan kepada CNA bahwa mereka dapat mengatur, dengan bantuan pemerintah Indonesia, bagi sebagian besar pelaut untuk pulang sebelum pertukaran awak selesai, meninggalkan sekitar sepertiga dari awak untuk menangani masalah keselamatan navigasi.
Namun, para pelaut telah menolak tawaran itu, karena mereka tidak memiliki cara untuk memilih siapa yang akan pulang dan siapa yang harus tinggal, kata Guntur.
“Semuanya ingin pulang. Siapa yang akan memilih untuk tinggal dalam kasus ini? Tidak ada yang mau tinggal di sana lagi karena tidak ada kepastian pemilik kapal akan mengirim awak baru,” kata Guntur.
Biro Kelautan dan Pelabuhan mengatakan, jika pemilik kapal yang terdaftar di registrasi kapal sebagai perusahaan Hong Kong terus mengabaikan masalah komunikasi dan pertukaran awak, pihaknya akan bertemu dengan instansi terkait untuk membahas lelang kapal guna mendapatkan dana untuk membantu para pelaut dibayar.







