Suarabmi.co.id – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lampung bernama Ninik (nama disamarkan) tengah menghadapi kesulitan besar setelah melahirkan bayi kembar prematur di Taiwan. Persalinan yang terjadi pada 7 Januari 2026 itu dilakukan melalui operasi caesar darurat akibat kondisi kesehatannya yang memburuk, termasuk tekanan darah yang sangat tinggi hingga hampir 250.
Menurut laporan CNA, kondisi kedua bayi yang lahir sangat prematur turut menambah beban medis. Bayi laki-laki lahir dengan berat 1268 gram, sementara bayi perempuan hanya 800 gram dan harus menjalani operasi jantung serta perawatan intensif di inkubator. Akibat seluruh rangkaian perawatan tersebut, biaya rumah sakit menumpuk hingga mencapai NT$2,5 juta atau sekitar Rp1,37 miliar.
Ninik sendiri merupakan PMI tidak berdokumen yang tidak memiliki asuransi kesehatan nasional, sehingga seluruh biaya harus ditanggung secara pribadi. Ia mengaku sebelumnya bekerja di sektor perkebunan setelah kabur dari pekerjaan resmi karena dugaan pelecehan seksual yang dialaminya saat bekerja sebagai caregiver.
Setelah berbagai kondisi darurat, Ninik akhirnya ditampung di Harmony Home bersama kedua bayinya usai keluar dari Rumah Sakit Wanfang pada 13 April. Pihak panti kini membantu proses penggalangan dana untuk melunasi biaya perawatan medis yang masih belum terselesaikan.
Sementara itu, Ninik berharap kondisi anak-anaknya bisa stabil dan ia dapat kembali ke Indonesia. Namun untuk saat ini, ia masih dibayangi beban utang rumah sakit yang sangat besar dan belum tahu bagaimana cara melunasinya.***







