Scroll untuk baca artikel
Kabar BMI

Disuruh Layani Nafsu Majikan, TKI di Taiwan Akhirnya Berani Lapor dan Diselamatkan

×

Disuruh Layani Nafsu Majikan, TKI di Taiwan Akhirnya Berani Lapor dan Diselamatkan

Sebarkan artikel ini

Suarabmi.co.id – Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan kembali menjadi korban pelecehan seksual oleh majikannya. Kasus ini diungkap oleh organisasi Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS), yang turut membantu penyelamatan korban melalui mediasi resmi.

TKI yang disamarkan namanya sebagai Bunga ini merupakan perempuan asal Jawa Tengah yang telah bekerja di Taiwan selama empat tahun.

Ia baru dua bulan menjalani kontrak kerja terbarunya sebagai perawat pasien stroke ketika pelecehan mulai terjadi. Selama itu pula, Bunga mengalami tekanan mental akibat perlakuan majikan dan pasien yang ia rawat.

Baca juga: Hati-hati Jangan Sampai Seperti TKI Taiwan ini, Kena Deportasi dan Denda setelah Promosikan Klinik Kecantikan Ilegal

“Majikan sering melecehkannya secara verbal dengan mengajak Bunga agar mau berhubungan intim,” ungkap GANAS, dikutip suarabmi.co.id dari CNA.

GANAS juga menyebutkan bahwa pasien yang ia rawat turut melakukan hal serupa. Permintaan berhubungan intim secara langsung dilontarkan kepada Bunga saat sedang menjalankan tugas merawat pasien tersebut. Situasi ini membuatnya tertekan secara psikologis, apalagi ditambah beban tanggung jawab terhadap keluarganya di Indonesia.

Tidak mampu lagi menahan tekanan, Bunga akhirnya menghubungi GANAS COMMUNITY dan berkonsultasi tentang kondisinya. Ia kemudian dibantu untuk keluar dari rumah majikan melalui proses mediasi resmi yang melibatkan dinas ketenagakerjaan di kota tempatnya bekerja.

Selama proses tersebut, Bunga juga didampingi oleh lembaga sosial dan NGO yang fokus pada perlindungan perempuan.

Baca juga: Kecelakaan Kerja, Kaki TKI Taiwan Aroni Diamputasi! Bantuan Segera Dibutuhkan untuk Biaya Pengobatan

Ketua GANAS, Fajar, menekankan pentingnya keberanian para PMI untuk melapor jika mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Dalam pernyataannya kepada CNA, ia mengatakan:

“Berani dan katakan tidak pada pelecehan seksual!”

Fajar juga menambahkan bahwa penting bagi pemerintah dan masyarakat Taiwan untuk menyampaikan edukasi soal pelecehan seksual tidak hanya kepada para PMI, tetapi juga kepada agensi dan majikan.

“Taiwan itu benar-benar ketat, harusnya informasi mengenai pelaporan pelecehan seksual itu tidak untuk PMI saja, melainkan juga untuk agensi dan majikan. Jadi, kalau ada PMI yang melapor, tidak ada namanya agensi yang bilang itu (pelecehan seksual) adalah hal biasa. Ini masalah serius,” kata Fajar.

Ia menjelaskan bahwa bentuk pelecehan seksual bisa bermacam-macam, termasuk ajakan yang tidak senonoh, sentuhan yang tidak diinginkan, hingga kiriman pesan bermuatan pornografi yang membuat korban tidak nyaman.

Baca juga: Seorang TKI Taiwan Pinjamkan ATM dan Kasih PIN ke Temannya PMI Overstay, Ujungnya Ditahan dan Dituntut Rp44 Juta

Fajar menyayangkan bahwa dalam beberapa kasus, keluarga majikan yang tinggal serumah pun mengetahui adanya pelecehan namun justru memilih untuk menekan korban atau menormalisasi situasi.

“Misalnya dianggap ‘Cuma gitu aja’, padahal itu sudah pelecehan. Sementara kalau terjadi secara spontan tentu kesulitan kawan-kawan mencari bukti sendiri. Respons lain adalah PMI-nya yang dianggap genit,” ujar Fajar.

Kasus Bunga menjadi salah satu pengingat bahwa perlindungan terhadap pekerja migran, khususnya perempuan, masih membutuhkan dukungan sistem yang kuat serta keberanian korban untuk melawan.***

Ikuti Berita Terbaru dan Pilihan Kami
Dapatkan update berita langsung melalui aplikasi WhatsApp dengan bergabung di Suarabmi.co.id WhatsApp Channel. Pastikan kamu telah menginstal aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan informasi terkini.

==