Tahun pertama, kehidupan Herawati berjalan normal. Namun memasuki tahun kedua, dia mulai mendapatkan perlakuan kasar dari istri pemilik rumah.
“Saya sering dipukul dan ditampar, juga tak pernah lagi menerima gaji,” kata Herawati dalam percakapannya dengan Asrizal H Asnawi.
“Sampai sekarang masih terasa sakit di tangan dan kaki karena kena pukul. Dekat kepala juga masih sering terasa sakit karena sering kena pukul,” cerita Herawati kepada Asrizal.
Herawati berbagi kisah, selama 8 tahun berada di rumah itu, dia tidak pernah menghubungi keluarganya di Aceh Tamiang karena dilarang oleh majikan.
“Bahkan, dalam 7 tahun terakhir dia tidak pernah dibenarkan lagi meninggalkan rumah atau dengan kata lain disekap,” ungkap Asrizal setelah mendengarkan cerita lengkap dari Bukhari Ibrahim, Haikal, dan Herawati.
Hingga pada Selasa 24 Mei 2022 pagi kemarin, Herawati nekat lari dari rumah tersebut. Beruntung, dalam pelariannya, dia berjumpa dengan perempuan asal Aceh yang kemudian mengarahkannya untuk bertemu dengan warga Aceh lainnya.
Dari informasi awal ini, Hera kemudian dijemput oleh Haikal, pria asal Aceh yang dikenal karena kerelawanannya.
Haikal kemudian berkomunikasi dengan Ketua SUBA, Tgk Bukhari Ibrahim yang dengan sigap mengamankan dan mengadvokasi Lili, termasuk membuat laporan ke KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia.







