Karena teleponnya telah disita sejak tiba dimajikan ilegalnya, dia tidak punya cara untuk mencari bantuan. Ketika majikannya memiliki tamu, dia diancam untuk tidak mengeluarkan suara atau dipukuli lagi.
Reni kemudian menceritakan hari pelariannya setelah 14 bulan dikurung di rumah majikan. Dia berkata bahwa dia sangat gugup dan berharap menemukan rekan senegaranya untuk membantunya.
Setelah mencari dengan sia-sia selama beberapa waktu, Reni akhirnya menemukan sebuah toko Indonesia, di mana dia bisa meminta bantuan dan menghubungi anggota keluarganya. Ketika ditanya apakah anggota keluarganya tahu tentang dugaan pelecehan tersebut, Reni mengatakan bahwa kakak laki-lakinya sangat sedih dan anggota keluarga lain yang mengetahui tentang penyerangan itu juga bingung.
Ketika ditanya tentang rencananya untuk mencari perlindungan, dia menjawab tidak tahu. Seorang teman laki-laki Reni yang bermarga Su (蘇) mengatakan kepada kantor berita bahwa satu-satunya pilihan mereka dalam masalah ini adalah mencari bantuan dari Lembaga Bantuan Hukum.
Su mengatakan dia bersyukur bahwa Taiwan memiliki kelompok hukum untuk membantu mereka dalam kasus ini. Setelah berita tentang penderitaannya menyebar, banyak pekerja migran dilaporkan juga menawarkan bantuan kepada Reni.
Diajukan dengan pertanyaan apakah dia masih ingin tinggal di Taiwan, dia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ditanya apakah dia ingin pulang sekarang, Reni mengangguk mengiyakan lalu berkata, “Tentu saja, saya pasti ingin pulang.”







